Best Practice Memotivasi Minat Belajar Peserta Didik Membuat Produk Tempe Berbagai Macam Bahan dengan Berkunjung ke Pengusaha Tempe

Proses kegiatan Pendidikan melibatkan kegiatan yang menyangkut interaksi kejiwaan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana nilai-nilai budaya suatu Masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan selalu melibatkan aspek-aspek yang tidak dipisahkan satu sama lain yaitu aspek kejiwaan, kebudayaan, kemasyarakatan, norma-norma, dan kemanusiaan. Pendidikan harus mempertimbangkan aspek psikologi peserta didik sehingga peserta didik harus dipandang sebagai subjek yang akan berkembang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Peserta didik yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada usia 11- 15 tahun adalah periode operasi, dimana peserta didik sudah dapat berpikir logis terhadap masalah baik yang bersifat konkret maupun abstrak. Pada tahap perkembangan Afeksi peserta didik yang berumur 12 – 18 tahun ada yang mengalami menemukan identitasnya sehingga dapat memotivasi dirinya atau masih bingung dengan identitasnya, sehingga masih belum bisa memotivasi dirinya. Pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama dimana usia peserta didik merupakan masa transisi itu agar dapat berkembang secara optimal dan termotivasi dalam belajar. Pada masa usia peralihan atau masa transisi dari anak-anak ke usia remaja perkembangan karakter anak-anak juga berubah. Dengan demikian perlu diketahui terlebih dahulu karakter peserta didik sebelum kita memulai pembelajaran. Dengan mengetahui karakter dari peserta didik, pendidik diharapkan dapat menentukan tujuan pembelajaran yang akan disampaikan. Dan juga dapat menentukan metode dan model pembelajaran yang disesuai dengan karakter peserta didik. Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran menggunakan metode yang inovatif, kreatif dan menyenangkan. Metode yang digunakan adalah model Project Based Learning (PjBL). Dengan menggunakan model ini dimana peserta didik akan membuat suatu produk dari sumber yang dipelajari terlebih dahulu. Sumber bisa langsung dari pelaku usaha, video yang diperoleh dari internet maupun dari berbagai sumber bacaan. Selain itu dalam proses pembelajaran juga divariasi dengan teknologi saat ini seperti pembuatan kuis dengan berbasis teknologi. Dalam menggunakan metode ini, peserta didik menjadi lebih aktif dan antusias dalam proses pembelajaran. Karena dalam metode ini peserta didik terlibat langsung dan adanya keseruan atau tantangan dimana berkunjung ke pelaku usaha tempe dan mereka secara aktif mengikuti proses pembuatan tempe dengan aktif bertanya yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan tempe dengan bahan dasar yang berbeda membuat mereka tertantang dan penasaran akan produk tempe yang mereka buat. Dengan adanya tantangan tersebut mereka dengan kesadaraan sendiri akan mencari tahu tentang proses pembuatan tempe yang benar, bahan pembungkus yang akan digunakan yang baik yang mana dan bahan-bahan dasar pembuatan yang mereka gunakan. Dalam proses pembuatan tempe butuh pengamatan karena adanya proses fermentasi untuk mengubah bahan dasar menjadi tempe. Dalam tahap pengamatan mereka antusias dalam mengamati sampai terbentuk tempe dengan membandingkan tempe dari pelaku usaha dengan tempe buatan mereka sendiri dari tekstur, aroma dan warna yang terbentuk selama proses tersebut. Selain itu mereka juga melakukan uji kelayakan tempe yang mereka buat dengan uji organoleptic dengan mencicipi tempe terbut setelah digoreng. Dalam pembuatan proyek yang menghasilkan sebuah produk pasti akan disertai dengan pembuatan laporan praktikum. Laporan dibuat dengan power point yang akan dipresentasikan di depan kelas. Dengan demikian dengan mengetahui karakter anak kita dapat menentukan dan merancang metode dan model pembelajaran yang tepat sehingga peserta didik dapat termotivasi dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Berikut hasil penelitian praktik baik (Best Practice) yang telah dilakukan dengan Langkah-langkah STAR