Membangun Generasi Sehat, Pemerintah Bagikan Obat Cacing untuk Anak Sekolah
Edusiana-Kebumen (28/Mei/2025) Sejumlah 128 Siswa SDN 3 Sampang minum obat cacing bersama di sekolah. Kegiatan diikuti oleh siswa kelas I-VI setelah melaksanakan senam sehat bersama. Dengan didampingi guru siswa antusias minum obat cacing yang diberikan oleh pemerintah. Pendampingan dilakukan untuk memastikan obat cacing benar-benar diminum atau harus ditunda sementara.
Kegiatan minum obat cacing di sekolah berdasarkan surat edaran Puskesmas Sempor 1 Kec.Sempor Kab. Kebumen Nomor 4007.9.4/2118/IV/2025 Tanggal 19 April 2025 perihal pemberian obat cacing tahap 1 pada siswa. Adapun obat cacing yang diberikan jenisnya Albandasole 400 mg.

Mekanisme pemberian obat cacing berdasarkan surat edaran yaitu siswa kelas I-VI, dosis 1 tablet, guru memastikan harus makan pagi sebelum minum obat, diberikan dengan pengawasan wali kelas, obat diminum bersama-sama di depan guru, serta jika siswa tidak hadir diberikan pada hari berikutnya.
Pemberian ditunda apabila siswa demam/sakit, tetapi segera minum apabila sudah sembuh dan sudah minum obat cacing (Albendazole) < 6 bulan terkhir.
Sugeng Mujiono, S.Pd selaku guru PJOK menjelaskan bahwa manfaat minum obat cacing adalah agar anak sehat. Beliau juga menambahkan tentang ciri-ciri anak yang cacingan serta akibatnya. Di samping itu, olahrga juga sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh..
Senada dengan pendapat Imas Cahyawati A.Md.Keb bahwa pemberian obat cacing ke siswa salah satu upaya pencegahan mengatasi infeksi cacing. Karena infeksi cacing yg tidak diobati akan menghambat pertumbuhan anak. Akibat dari infeksi tersebut menyebabkan gizi buruk, dan mengurangi kemampuan berkonsentrasi dalam belajar.
“Pemberian obat cacing untuk siswa merupakan usaha pemerintah untuk membangun generasi sehat di masa kini dan mendatang. Langkah ini sangat tepat untuk mencegah terjadinya stanting” Ucap Jamroh
Ita Purwati siswa kelas VI mengungkapkaan “Ini pengalaman pertama minum obat pakai air minum. Awalnya ragu tapi dengan penjelasan pak guru saya jadi berani meskipun rasanya agak pahit.”

