Pelestarian Bahasa Jawa Melalui Buku Dwibahasa

Pelestarian Bahasa Jawa Melalui Buku Dwibahasa

Bahasa Jawa memiliki kearifan lokal yang sangat kental. Di dalam Bahasa Jawa terdapat banyak tata nilai moral yang harus dipedomani oleh penutur. Tata nilai dalam bertutur membuktikan sopan santun penuturnya. Melalui Bahasa Jawa adab saling menghormati (unggah-ungguh) sangat terjaga di kalangan masyarakat.

Keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama kini telah melekat erat di kalangan masyarakat. Jumlah penutur Bahasa Indonesia telah merambah sampai ke anak-anak. Dimana seharusnya sebagai anak Jawa pengenalan Bahasa pertama adalah Bahasa Jawa sebagai Bahasa Ibu. Namun, hal itu telah mengalami pergeseran di mana bahasa pertama yang diperdengarkan adalah Bahasa Indonesia.

Dalam keseharian Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi aktif oleh anak dan orang tua.  Lingkungan rumah dan sekolah menjadi tempat berkembangnya Bahasa Indonesia. Hal itu menandakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang unggul dalam berkomunikasi.

Celakanya kemajuan penutur Bahasa Indonesia tidak dibarengi dengan jumlah penutur Bahasa Jawa. Hingga akhirnya penutur Bahasa Jawa di setiap wilayah jawa mengalami kondisi yang mengkhawatirkan. Apabila dianalogikan dengan penyakit penutur Bahasa Jawa masuk dalam fase kronis,

Menurunnya jumlah penutur Bahasa Jawa tidak lepas dari peran keluarga dan sekolah. Di lingkungan keluarga, orang tua lebih dominan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak.  Sementara itu, di lingkungan sekolah porsi jam pembelajaran Bahasa Jawa sangat terbatas. Selain itu, buku bacaan di sekolah 95% menggunakan Bahasa Indonesia. Kalaupun ada yang menggunakan Bahasa Jawa hanya buku paket pelajaran Bahasa Jawa. Akses anak semakin sempit untuk mengenal Bahasa Jawa.

Kondisi ini benar-benar menjadi sebuah ancaman terhadap kelestarian Bahasa Jawa. Dibutuhkan buku bacaan anak untuk mengenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama Bahasa Jawa sebagai pelestarian budaya. Senada dengan Yulianti, Dkk. (2022) Buku Dwibahasa dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan Bahasa Jawa sebagai wujud melestarikan kebudayaan daerah yang beragam di Indonesia.

Buku bacaan dua bahasa atau dwibahasa adalah buku yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan Bahasa Jawa. Buku menyajikan cerita anak segar dan mendidik. Cerita disajikan dalam dua bahasa (bilingual) sehingga pembaca memperoleh pemahaman cerita dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Lebih lanjut, cerita disesuaikan dengan jenjang perbukuan yaitu jenjang A,B,dan C.

Untuk mengakomodasi adanya buku dwibahasa beberapa balai bahasa provinsi telah bergerak. Salah satunya adalah balai bahasa provinsi Jawa Tengah. Melalui akun media sosial balai bahasa provinsi Jawa Tengah mengadakan lomba menulis buku dwibahasa berbasis komunitas. Buku tersebut bertujuan agar pembaca bisa menikmati bacaan dengan Bahasa Indonesia sekaligus mengenal Bahasa Jawa.

Melalui bacaan dwibahasa pembaca dapat memahami cerita yang disajikan melalui dua bahasa sekaligus. Meskipun pembaca harus dua kali membaca namun akan meningkatkan daya literasi. Bahasa Jawa akan tetap dikenal oleh pembaca hingga mampu meningkatkan jumlah penutur Bahasa Jawa.

Strategi Implementasi

Kompetensi membaca di kalangan anak saat ini masih butuh motivasi. Daya baca anak masih kurang optimal. Buku dwibahasa bagi anak yang memiliki motivasi membaca rendah menjadi hambatan tersendiri. Proses membaca buku dwibahasa membutuhkan pengulangan/penerjemah hingga dibutuhkan semangat membaca yang tinggi. Untuk itu, dibutuhkan strategi dalam implementasi untuk menguatkan daya baca anak.

Adapun strategi yang dapat diterapkan pada jenjang SD yaitu membaca dan bercerita berpasangan. Strategi tersebut diterapkan agar pembaca buku dwibahasa lebih tertarik dan menggembirakan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan di lingkungan sekolah dan di rumah.

Di lingkungan sekolah, anak membaca cerita dilakukan dengan dua anak. Satu anak menjadi pembaca dengan Bahasa Indonesia sedangkan satu lagi membaca dalam Bahasa Jawa. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergantian sehingga anak aktif membaca dan mendengar. Selesai membaca mereka bercerita dengan dwibahasa. Sementara itu, bagi kelas bawah kegiatan ini membaca bisa dilakukan oleh guru sedangkan anak bisa menjadi pendengar.

Sementara itu kegiatan membaca dan mendengar di lingkungan keluarga dapat dilakukan bersama anggota keluarga misalnya membaca dengan ibu, ayah, maupun kaka. Kegiatan yang dilakukan bisa seperti di sekolah secara bergantian membaca dan mendengar dan diakhiri bercerita.

Membaca dengan cara seperti itu menambah kegembiraan anak. Motivasi membaca dapat meningkat. Selain itu, membaca berpasangan juga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Antara lain kemampuan menyimak dan berbicara.

Kegiatan seperti itu bisa dilakukan sebagai pembiasaan di sekolah maupun di rumah. Di sekolah kegiatan membaca buku bacaan dwibahasa dapat dilakukan sebelum pembelajaran dimulai sebagai kegiatan literasi. Kegiatan juga bisa dilakukan dalam waktu yang ditentukan.

Penerapan literasi termasuk implementasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat terdiri dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat. Kegiatan literasi dapat dimasukan dalam pembiasaan gemar belajar.

Dengan kegiatan yang rutin, baik di sekolah maupun di rumah anak akan terbiasa membaca dan mendengar cerita dengan dua Bahasa. Di dalam proses kegiatan itu diharapkan Bahasa Jawa tetap dikenal oleh generasi muda khususnya anak-anak. Untuk melestarikan Bahasa Jawa diperlukan perhatian serius dari semesta  (siswa, guru, orangtua, masyarakat, serta pemerintah).

Hadirnya buku bacaan dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa) merupakan salah satu langkah strategis untuk melestarikan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang semakin hilang penuturnya dapat kembali secara perlahan. Generasi penerus tetap mengenal dan menghargai bahasa ibu sebagai bahasa yang daerahnya.

Buku dwibahasa dapat menjadi tameng terhadap lajunya bahasa asing dan gaul. Melesatnya teknologi dan media sosial menjadi sebuah tantangan bagi eksistensi Bahasa Jawa.  Melestarikan Bahasa Jawa termasuk melestarikan kebudayaan serta menjaga dari gempuran bahasa asing dan bahasa gaul.

Lingkungan rumah sebagai tempat pemerolehan bahasa yang pertama memiliki peran penting. Penutur dalam komunikasi keluarga akan sangat menentukan pemerolehan bahasa anak. Pengenalan Bahasa Jawa sejak dini menjadi pondasi awal bagi anak mengenal bahasa.

Komunikasi dengan Bahasa Jawa sejak dini berarti melatih anak mengenal tata krama/ unggah-ungguh. Nilai-nilai tersebut yang menjadi pondasi kuat bagi anak untuk tidak melupakan identitas dirinya. Apapun bahasa yang dikuasainya tidak akan melupakan bahasa ibu sebagai bahasa daerahnya.

Buku dwibahasa saat ini menjadi sangat penting keberadaannya. Dimulai dari kalangan anak-anak proses pemerolehan Bahasa Jawa akan terus dikenalkan. Gerakan pengadaan buku dwibahasa harus dilakukan secara masif  agar kelestarian Bahasa Jawa tetap berkelanjutan.