Petaka Liburan

Petaka Liburan

Libur sekolah yang dinanti Bagus sejak lama akhirnya terwujud. Bayangan untuk bermain game online sudah tersusun rapi di otaknya. Harapan bertemu dengan teman maya yang begitu banyak dan mengasyikan jelas terwujud tanpa ada gangguan sekolah. Kamar pun menjadi tempat ternyaman bagi Bagus untuk bermain game sepanjang hari. Apalagi libur sekolah selama dua minggu jadi harga mati untuk main game sepanjang hari.

“Diki, Koko, Wawan, kita jumpa lagi!” panggilan Bagus pada teman onlinenya penuh girang.

“Yuk, kita main game!” ajak Bagus antusias

Das..des..jass…joss terdengar dari smartphone dan suara Bagus. Pertanda permainan sudah mulai padahal masih pukul 05.00 WIB. Bangun tidur tak berpikir untuk sholat apalagi sarapan pagi minum seteguk air pun tak dilakukan. Hanya cuci muka bergegas ke kamar dan menyambar smartphone yang ada di atas meja.

“Nak, sarapan dulu!” panggil Bu Winda dari dapur

“Taruh situ saja, Bu. Bagus lagi asyik.” seru Bagus

Sampai siang makanan masih utuh di meja makan. Bu Winda berusaha merayu anaknya supaya mau makan tapi hasilnya nihil. Bahkan suara Bagus meninggi saat ibunya merayu untuk makan.

Dari mulai bermain sampai malam Bagus tidak keluar kamar. Telinganya tertutup handset smartphone, layar smartphone pun dibuat remang-remang dengan alasan hemat daya. Mukanya tampak kusut badanya bau asem karena tidak mandi seharian.

Melihat kebiasaan anaknya Bu Winda sebenarnya sedih dan kuatir. Namun saat diberi nasihat Bagus selalu punya saja alasan. Hingga akhirnya Bu Winda membiarkan kebiasan anaknya.

“Mantap!! Yes...yes!!” suara bagus terdengar dari ruang tamu.

Suara itu setiap hari terdengar dari dalam kamar Bagus yang menandakan kemenangan. Bagus dan teman online selalu ramai dan akrab dalam permainan. Entah siapa teman online anaknya itu. Namun yang buat sedih Bu Winda setiap teman sebayanya mengajak bermain selalu ditolak. Hingga tidak ada teman nyata yang mau lagi mengajak bermain.

“Bagus, tadi teman-temanmu mengajak bermain ke ladang.” Ucap Bu Winda

“Ahh...males, main sama mereka, ga asyik.” Seloroh Bagus sembari bermain game

Bagus selalu mengutamakan teman-teman onlinenya. Dia sudah tak mau lagi bermain di dunia nyata. Dunia online kini menjadi andalan Bagus untuk memenuhi kesenangannya. Bagi Bagus paling asyik bermain game online lebih menarik.

“Nak, kamu jangan setiap hari main game online, apalagi dengan telinga ditutup serta layar yang gelap itu bahaya.” Nasihat Bu Winda

“Sok, tahu, Ibu...kaya ibu pernah main game online saja!” jawab Bagus ketus

Mendengar jawaban anaknya Bu Winda sebenarnya marah dan kesal. Namun tak kuasa untuk berbuat lebih keras. Setiap mengingat kejadian masa kecil Bagus yang telah ditinggal ayahnya. Ayahnya meninggal saat mereka berlibur ke pantai. Di perjalanan pulang mobil mereka mengalami rem blong sehingga masuk jurang.

...

Di malam hari saat Bagus bermain game tangannya sering mengusap mata dan menggelengkan kepala. Terlihat pandangan matanya kabur dan pendengarannya berkurang. Bagus terus bermain tak peduli dengan kondisi yang dirasakan. Tetap bersemangat untuk memenangkan game yang sedang bertanding.

“Ibu...Ibu...Ibu!!!” teriak Bagus dari dalam kamar.

Mendengar teriakan anaknya Bu Winda terheran. Baru saja Bagus masuk kamar untuk bermain game tak berapa lama memanggil ibunya. Bu Winda yang baru saja sholat subuh bergegas ke kamar anaknya.

“Ada apa, Nak?” tanya Bu Winda sembari heran.

Bagus di kasurnya sedang berguling-guling sambil mengusap-usap kedua matanya. Kepalanya dibentur-benturkan ke kasur entah apa yang dirasakan. Bagus terus memanggil ibunya padahal ibunya sudah di sampingnya.

“Ibu disini, Nak?” sembari mengusap kepala

“Bagus ga bisa lihat dan dengar, Bu.” Suara bagus parau

Mendengar pernyataan anaknya Bu Winda bingung dan tak percaya. Hanya air mata kesedihan melihat anaknya meraba-raba wajah dan tangannya. Bagus menangis di pangkuan ibunya. Mereka sama-sama menangis sedih menerima kondisi yang tak dikira sebelumnya.

“Bu, kenapa Bagus tiba-tiba ga bisa lihat dan dengar?” rengek Bagus

“Besok kita ke dokter ya, Nak.” Ajak Bu Winda lembut

Keesokan harinya Bu Winda dan Bagus ke dokter mata dan telinga. Hasil pemeriksaan dokter bahwa Retina mata dan gendang telinga mengalami kerusakan. Oleh karena itu Bagus tak bisa melihat dan mendengar selamanya. Mendengar hasil dokter Bagus hanya bisa diam dan menyesali kebiasaan buruknya dalam bermain game setiap hari.

Dalam kondisi buta dan tuli tak ada yang bisa dilakukan Bagus. Teman-teman onlinenya tak mau lagi bermain dengannya. Teman -teman yang biasa mengajak bermain juga tak lagi mau mengajaknya. Bagus hanya sendiri di dalam rumah tanpa ada yang bisa dilakukan. Tanpa melihat dan mendengar dia hanya bisa berjalan kesana-lemari di dalam rumah.

“Ibu, apa Bagus bisa sembuh?” keluh Bagus

“Jika tuhan menghendaki pasti kamu bisa sembuh.” Sahut Bu winda

“Ini adalah teguran tuhan karena bagus tidak mau mendengar nasihat ibu.” Tegas Bu winda.

Mendengar jawaban ibunya Bagus tertunduk penuh sesal. Dia teringat nasihat ibunya saat memberikan peringatan namun selalu ditolaknya. Kini sesal tiada arti semuanya sudah terjadi. Bagi Bagus dunia ini hanya seluas rumah yang semuanya tenang dan sunyi.

Setiap pagi Bagus membuka jendela kamarnya. Suasana tenang dan udara dingin bisa dirasakan. Meskipun kata ibu di luar sana teman-teman Bagus sedang asyik bermain. Namun bagi Bagus semuanya gelap dan tenang.

Jiwa tak terima akan kondisi yang dialami membuat bagus sering memukul-mukul kepalanya dengan harapan bisa melihat dan mendengar. Sendiri terpaku setiap hari di jendela kamarnya merenungi nasibnya. Hanya rasa dingin dan lapar yang masih akrab dirasakan Bagus.