Pendidikan yang Menghidupkan "Dulu Pekerja Kini Pengusaha"

Pendidikan yang Menghidupkan "Dulu Pekerja Kini Pengusaha"

 Identitas Buku

Judul              : Dari Coba Ke Cuan (Membangun Entrepreneur Muda dengan ELBM)

Pengarang          : Dr. Agus Sunaryo, M.Pd

Tahun terbit        : 2025

Jumlah halaman : 257 (beserta profil penulis)

  1. Ringkasan isi buku

Buku “Dari Coba Ke Cuan” berisi 15 bab yang terurai menjadi beberapa subbab. Masing-masing bab menyajikan pengetahuan yang baru untuk mendukung dan memperkuat  pendekatan Eksperiential Learning Barbasis Mentoring (ELBM). Adapun pembagian terdiri dari Bab 1 Mimpi dan Realita Generasi Muda, Bab 2 Sekolah Bukan Sekadar Ijazah, Bab 3 Melek Finansial Siap Wirausaha, Bab 4 Jurusan Sekolah yang Menghidupi, Bab 5 Belajar Usaha Bukan Hanya Teori, Bab 6 Wirausaha sebagai Solusi Kemiskinan, Bab 7 Kesuksesan Wirausaha Bukan Warisan, Bab 8 Belajar dari Pengalaman, Bab 9 Mentoring yang Menggerakkan, Bab 10 Eksperiential Learning Barbasis Mentoring (ELBM), Bab 11 Langkah-langkah ELBM, Bab 12 Pembelajaran yang Menghidupkan, Bab 13 Metode ELBM dalam Pembelajaran Kewirausahaan, Bab 14 Menilai Proses dan Mengukur Dampak, Bab 15 Dari Coba Jadi Cuan.

Transformasi pendidikan perlu dilakukan agar pembelajaran tidak hanya sekadar teori. Pembelajaran yang kering akan pengalaman nyata hanya akan menghasilkan siswa pandai menghafal tanpa memahami kondisi nyata di pasar. Pendekatan ELBM merupakan solusi untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan mendalam. Pendekatan tersebut mewujudkan pendidikan yang memberdayakan siswa dengan melibatkan semua unsur yaitu  siswa, guru, dan mentor. Semua unsur tersebut bertujuan untuk memberikan bekal dalam berwirausaha.

Dalam implementasi pendekatan Eksperiential Learning Barbasis Mentoring (ELBM) memiliki empat tahapan yaitu tahap konsepsi, pengalaman nyata, refleksi observasi, perencanaan usaha, serta praktik usaha. Setiap tahapan merupakan sebuah lingkaran proses yang menjadi navigasi dalam membangun usaha. Dalam tahap tersebut memuat peran serta setiap unsur untuk menguatkan siswa dalam proses pendampingan. Merujuk dari tahapan yang harus dilakukan maka penulis juga memaparkan sejumlah tantangan dan solusi dalam implementasi di semua jenjang pendidikan.

Bab sepuluh  merupakan ruh dari semua permasalahan yang dimuat dalam buku. Sedangkan amanat dalam dalam ELBM adalah mengubah pola pikir terhadap proses pembelajaran yang menghidupkan. “Dulu Pekerja Kini Pengusaha” merupakan hasil transforasi melalui ELBM.

Pada bab tersebut penulis menjelasakan secara gambalang langkah-langkah terstruktur metode ELBM. Penulis juga menguatkan dengan berbagai contoh kesuksesan wirausaha baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Disajikan pula kisah inspiratif dari siswa yang berani melangkah menjadi wirausaha melalui pendampingan mentor.

Kesuksesan para pengusaha tidak lepas dari literasi finansial yang kuat. Literasi finansial membantu penguasaha mengelola keuangan secara cermat. Melalui pendampingan mentor pembelajaran kewirausahaan semakin bermakna dan mendalam. Hal itu selaras dengan pendekatan pembelajaran yang saat ini diterapkan yaitu pembelajara mendalam (Deep Learning).

B. Analisis

a).Keunggulan

Pembaca akan dibawa pada penjelasan yang gamblang dalam implementasi ELBM. Setiap penjelasan diperkuat dengan hasil penelitian yang relevan. Tahapan ELBM untuk setiap jenjang pendidikan dijelaskan secara rinci. Kalimat yang penulis uraikan disajikan dengan bahasa yang gampang dipahami pembaca. Proses pembelajaran dengan pendekatan ELBM selaras dengan prinsip pendekatan Deep Learning yaitu berkesadaran, bermakna, dan gembira.

b).Keterbatasan

Buku sangat tebal sehingga kurang memotivasi pembaca. Banyak pengertian dan langkah yang diulang-ulang. Implementasi metode lebih cenderung ke jenjang sekolah SMK. Dokumentasi implementasi ELBM belum dilampirkan. Solusi yang ditulis masih bersifat teori sehingga butuh kajian lebih lanjut. Contoh konkrit pendampingan mentor masis\h perlu disajikan melalui media video.

C. Nilai-nilai Pendidikan Kewirausahaan yang Terkandung

  1. Kolaborasi

Pendidikan kewirausahaan dilakukan secara kolaboratif antar siswa, guru, serta mentor. Semua elemen memiliki peran tersendiri untuk membentuk karakter kewirausahaan.

  1. Keberanian

Faktor utama dari seorang wirausaha adalah keberanian untuk mencoba. Dengan mecoba sesuatu yang baru seorang wirausaha dapat mengetahui tantangan pasar. Tantangan yang muncul bukan sebagai batu sandungan tetapi sebagai batu loncatan.

  1. Daya tahan/Tangguh

Wirausaha harus memiliki daya tahan dan daya juang yang Tangguh. Nilai-nilai ini menjadi tolok ukur keberlangsungan usaha yang dijalani. Setiap tantangan yang datang dijadikan pembelajaran dan evalausi diri.

  1. Inovatif

Daya nalar seoarang wirausaha terhadap tuntutan pasar harus ditanggapi dengan karya yang inovatif. Hal ini penting agar produk yang kita hasilkan memiliki brending di masyarakat.

  1. Kreatif

Sebuah produk akan lebih memiliki branding apabila ditangan wirausaha yang kreatif. Kreativitas sebuah produk dapat berupa kemasan, produk, serta pemasaran.

  1. Tanggungjawab

Setipa wirausaha pasti harus mengambil keputusan penting. Wirausaha memiliki tanggung jawab atas apa yang menjadi keputusan untuk keberlangusngan usaha.

D. Refleksi pribadi penulis terhadap isi buku

Buku yang sangat tebal membuat sebagian besar orang malas membaca. Perlu ditulis lebih ringkas namun tidak mengurangi esensi isi buku. Proses ELBM ditulis dengan mengambil salah satu satuan pendidikan. Selanjutnya sebagai bentuk eksplorasi pembaca, materi dan dokumentasi disajikan secara online dengan menyajikan  barkode di ujung halaman. Dengan cara seperti itu dapat mengurangi jumlah halaman. Barkode dibuat untuk materi yang cenderung sama. Melalui barkode penulis dapat memasukan berbagai dokumentasi multimoda. Pendalamam materi dan implementasi kewirausahaan untuk sekolah dasar sangat butuh penguatan. Penguatan bisa melalui kegiatan yang bersifat membangun karakter kewirausahaan sejak dini.

E. Inovasi

Program nyata yang sedang dikembangkan di SDN 3 Sampang dalam membangun karakter kewirausahaan adalah sebagai berikut:

  1. Market Day

Kegiatan Market Day sebuah ajang pembelajaran yang memuat literasi dan numerasi. Kegiatan tersebut disajikan dengan membentuk sebuah pasar mini yang terdapat kegiatan jual beli oleh siswa. Dalam Market Day siswa banyak belajar tentang membuat perencanan, proses, serta evaluasi. Disamping itu siswa juga belajar tentang literasi finansial. Pelaksanaan kegiatan pada waktu Kegiatan Tengah Semester (KTS).

  1. Cooking Class

Pada kegiatan ini siswa diajak ke tempat produksi yang berada di lingkungan sekolah. Tempat produksi yang kami kunjungi adalah produksi Bakpia. Dalam kegiatan Cooking Class siswa melihat dan praktik proses produksi Bakpia. Kegiatan diakhiri dengan wawancara dengan pemilik.

  1. PROLIGA (Program Literasi Guru dan Siswa)

Memanfaatkan aplikasi Canva untuk membuat kreasi iklan usaha. Kegiatan ini didampingi oleh bapak dan ibu guru. Bapak dan ibu guru sebagai mentor dalam membuat kreasi yang berbasis online. Kegiatan ini membutuhkan usaha yang tekun, kreatif, serta inovatif agar sesuai dengan pasar. Sebagai uji coba hasil karyanya dipakai untuk diri sendiri/orang tua yang memiliki usaha dagang. Selain itu, siswa juga memasang di story sebagai media pemasaran jasa.

  1. Kelas Inspiratif

Pada kelas inspiratif dilakukan dengan dua cara yaitu

  1. Menghadirkan Pengusaha Muda Lokal.

Menghadirkan pengusaha muda lokal dilakukan untuk memberikan inspirasi dan motivasi pada siswa. Kelas ini diikuti oleh siswa kelas atas yaitu kelas 4-6. Pengusaha memberikan pengalamannya dalam membangun usaha yang dirintis dari nol sampai berhasil. Pengusaha muda lokal di Desa Sampang sudah sangat terkenal dengan produksi Kue Pukis. Kue Pukis produksi pengusaha Desa Sampang sudah terbukti dapat membantu perekonomian masyarakat lebih mandiri. Kegiatan ini kami laksanakan pada waktu Kegiatan Tengah Semester (KTS) 1 dan 2.

  1. Lokakarya Membaca Teks Fiksi

Menanamankan karakter wirausaha juga kami lakukan  melalui lokakarya membaca (Reading workshop). Guru membacakan buku cerita yang mengandung karakter wirausaha yaitu kemandirian, ketangguhan menghadapi tantangan, kreativitas, serta kerjasama/kolaborasi. Guru membaca dengan teknik membaca nyaring untuk kelas 1-3. Melalui cerita diharapkan dapat membangun imajinasi pada siswa terhadap karakter yang dibangun dalam cerita. Untuk mendukung kegiatan tersebut guru mengumpulkan buku cerita milik pribadi. Kegiatan lokakarya dilakukan sebelum pembelajaran dan Kegiatan Tengah Semester (KTS).