Aceh Singkil Tanggap Darurat: Diperlukan 'Satu Komando' dan Sinergi Total Mitigasi Bencana
Edusiana - Singkil (5/12/2025)
Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Singkil kian meluas, merendam setidaknya tujuh kecamatan yang tersebar di wilayah tersebut. Wilayah terdampak parah meliputi Kecamatan Simpang Kanan, khususnya Desa Silatong dan Cibubukan, serta Kecamatan Gunung Meriah, Singkil, Singkil Utara, Kuta Baharu, dan Suro.
Menyikapi situasi yang mendesak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana yang berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025. Namun, upaya mitigasi dan penyaluran bantuan disorot karena dinilai masih belum merata dan memerlukan koordinasi yang lebih solid.
Musliman Berutu, politisi dari Partai NasDem, menyampaikan seruan keras agar seluruh komponen pemerintahan bersatu padu menghadapi krisis ini.
"Sejak ditetapkannya Daerah Aceh Singkil dengan Tanggap Darurat Bencana mulai 28 November hingga 11 Desember 2025, hendaknya seluruh komponen sayap Pemerintahan Kabupaten Aceh Singkil dapat bersatu padu satu komando untuk mitigasi menjangkau seluruh sisi yang saat ini banyak masyarakat membutuhkan pertolongan. Hal ini berlaku juga di kecamatan lain yang ada di Kabupaten Aceh Singkil," tegas Musliman.
Ia menambahkan bahwa laporan mengenai masyarakat yang belum tersentuh bantuan masih terus terdengar, baik dari wilayah terdalam di Simpang Kanan, maupun begitu juga di kecamatan lain yang ada di Kabupaten Aceh Singkil. Tantangan logistik, terutama keterbatasan moda transportasi, menjadi penghambat utama.
"Saat ini masih terdengar ada pihak yang memanggil, minta uluran tangan, baik itu kepada pihak terkait ataupun yang punya kemampuan. Dapat dipahami tentu masih ada yang belum tersentuh, barangkali keterbatasan moda transportasi dan lain-lain," lanjutnya.
Soroti Lonjakan Harga BBM
Selain masalah logistik bantuan, Musliman Berutu juga menyoroti adanya oknum yang memanfaatkan kondisi darurat ini dengan menaikkan harga kebutuhan, terutama bahan bakar minyak (BBM) eceran.
"Oleh karenanya, untuk mendukung semua kelancaran aktivitas serta memulihkan keadaan, kiranya yang mempunyai wewenang di daerah ini segera mengontrol harga BBM eceran yang saat ini sampai Rp 50 ribu per liter," desaknya. Kenaikan harga BBM yang ekstrem ini sangat menghambat mobilitas tim penyelamat dan pendistribusian logistik.
Musliman berharap agar tidak ada yang mengambil kepentingan di balik derita musibah ini dan seluruh fokus tertuju pada upaya pemulihan serta penjangkauan korban yang terdampak di seluruh penjuru Aceh Singkil. Musliman juga berharap agar PEMDA segera deteksi dini terkait akses masyarakat mendapatkan BBM jangan terganggu, ujarnya kepada media Edusiana.
Ust. Sayuti Is
News Writer for Edisiana Magazine

