Rupanya Kita Krisis Pemikir

Rupanya  Kita Krisis Pemikir
Banjir Aceh, Jum'at, (28/12/2025).

Oleh: TGK. Sayuti Ismail, S.Sos., M.Ag (Cand).

Setiap kali kita melihat layar kaca memperlihatkan air keruh setinggi dada melanda kampung, atau lumpur tebal menimbun rumah-rumah, hati kita perih. Kita mencari alasan: menyalahkan hujan yang terlalu lebat, atau mungkin alam yang sudah marah. Kadang, kita menunjuk penebang kayu di puncak gunung. Namun, tahukah kalian? Ada yang jauh lebih rapuh dan menyedihkan dari sekadar alam yang rusak: rupanya, kita krisis pemikir. Kita kehabisan orang-orang di kursi kekuasaan yang mau dan mampu berpikir dengan hati, melihat jauh ke depan, bukan hanya sibuk menatap laporan keuangan hari ini.

Krisis pemikir inilah yang membuat kita terus menangisi bencana yang sama, tahun demi tahun. Para pemimpin kita seperti pemadam kebakaran yang baik: cekatan membagikan mi instan, sigap memperbaiki jalan yang putus. Mereka adalah manajer darurat yang hebat. Sayangnya, kita sangat kekurangan arsitek masa depan, orang yang melihat ke puncak gunung lalu berkata, "Jika satu pohon itu ditebang, artinya ada genangan air mata di rumah-rumah warga di bawah sana." Mereka gagal menyambungkan benang tipis antara kayu yang dikirim ke pabrik dengan air bah yang merenggut nyawa.

Inilah akar kesedihan kita. Logika yang dipakai kini cacat: mereka menganggap uang yang didapat dari penjualan kayu jauh lebih penting daripada menjamin keselamatan rakyat. Mereka lupa bahwa satu pohon yang berdiri tegak adalah benteng pertahanan paling murah. Hanya pemikir sejati yang akan menghitung air mata, trauma, dan biaya perbaikan kota yang hancur, lalu menyimpulkan: nilai fungsi hutan jauh lebih mahal daripada nilai kayunya. Kelalaian pemerintah ini bukan lagi kebetulan, tapi sebuah pilihan yang menyakitkan. Mereka gagal melindungi kita karena memilih solusi yang mudah dan cepat, meskipun itu salah dan penuh air mata.

Maka, implikasi dari krisis pemikir ini terasa begitu tragis di setiap tetes air yang meluap. Kepada para Penebang Kayu, baik yang legal maupun yang 'diam-diam', kalian adalah tangan yang menusuk pertahanan terakhir kami. Kalian melihat kayu sebagai keuntungan, tetapi di mata kami, kalian menukarkan uang tunai dengan kesedihan, kehilangan tempat tinggal, dan nyawa anak-anak tak berdosa di hilir. Pertanyaan ini harus menghantui kalian sebelum gergaji mesin menyala: Apakah untung kayu kalian sebanding dengan trauma yang diderita satu keluarga yang kini kehilangan segalanya?

Sudah saatnya kita bangkit dan menuntut lebih dari sekadar janji. Kita butuh Pemikir sejati yang mengembalikan logika kemanusiaan ke inti setiap keputusan. Yang menganggap setiap izin penebangan adalah vonis yang harus dipertimbangkan dengan air mata. Jika kita tidak segera mengisi kekosongan pemikir ini, kita akan terus terombang-ambing oleh air bah yang sama, membuktikan bahwa kehancuran terbesar kita adalah karena kita berhenti berpikir secara bijaksana dan dengan hati.

News Writer for Edusiana Magazine