Pojok Teras Pustaka Upaya Membangun Gerakan Literasi Sekolah

Pojok Teras Pustaka Upaya Membangun Gerakan Literasi Sekolah

POJOK TERAS PUSTAKA UPAYA MEMBANGUN GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)

Oleh : Muhammad Nurdin, S.Pd*)

EDUSIANA-Bungoro (04 Desember 2024)

Satu dasawarsa telah berlalu saat dicanangkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ketika itu dijabat oleh Prof Anies Baswedan, pencanangan gerakan tersebut didasarkan pada Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 dengan tema sentral yang diusung, "Bahasa Penumbuh Budi Pekerti." Mengapa tema ini yang dipilih saat pencanangan GLS itu, menurut penulis bahasa merupakan inti sari dari sebuah tuturan dengan tutur yang baik akan menumbuhkan elemen budi pekerti yang baik pula.  Gerakan yang baik ini diawali di Jantung negara yakni Ibu kota Jakarta dengan mengawali pemberian buku paket untuk 20 sekolah itulah titik tolak dimulainya genderang literasi sekolah.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini bertujuan untuk mendorong dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis dengan harapan agara dengan itu dapat menumbuhkan budi pekerti dan selanjutnya akan terus berproses agar generasi kita kedepannya memiliki budaya dan kemampuan untuk dapat berliterasi tinggi dalam upaya menopang peradaban dan masa depan bangsa. Bagi bangsa Indonesia literasi sebenarnya bukanlah hal yang baru cuma seakan-akan tidak mengalamai perkembangan dan cenderung stagnan. 

Dikutip dari https://www.akasaramaya.com, menurut para antrpolog, arkeolog dan filolog bahwa budaya literasi tulis menulis di Indonesia sudah ada sejak 5 Masehi, menelusuri jejak sejarah literasi indonesia bahkan melampaui peluncuran pertama mengenai Global Literasi Effort tahun 1946 oleh lembaga UNESCO. Dari tahun ke tahun pemerintah kita telah berupaya mengembangkan dan membudayakan proses literasi.

Dalam tulisan ini penulis berupaya melakukan inovasi sederhana di lingkungan sekolah  tepatnya di UPT SDN 26 Jollo, sebuah sekolah yang berada diwilayah pesisir Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, kenapa harus ada istilah Pojok Teras Pustaka ? Apakah sekolah tidak memiliki ruang atau gedung perpustakaan ? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan buat diri sendiri namun ketika ada yang membaca tulisan ini dan memberikan jawaban dan perspektifnya itu lebih baik lagi. Diksi atau frasa Pojok Teras Pustaka ini lahir dari perenungan, pengamatan dan beberapa diskusi baik bersama para guru, teman penggiat literasi dan melalui media sosial.

Pojok Teras Pustaka ( Poterpus ) hanyalah bentuk istilah dan penamaan saja, sesungguhnya sekolah tempat penulis mengabdi oleh pandangan sebagian orang dari sekolah lainnya terkesan kumuh karena berada ditengah perkampungan gedunnya yang hanya satu unit saja terdiri dari tiga ruang kelas, dan ruang kelas itulah disekat sehingga cukup menjadi 6 (enam ) ruang belajar, gambaran ini menunjukkan bahwa UPT SDN 26 Jollo, pesisir tidak memiliki ruang/gedung perpustakaan, sehingga buku-buku pustaka disimpang di ruang belajar kelas 1 dengan rak-rak yang sudah mulai termakan usia, inilah yang mendorong lahirnya tempat yang kemudian disebut, " Pojok Teras Pustaka," karena menempati teras sekolah yang berdekatan dengan ruang belajar kelas 5(lima).

Upaya ini bertujuan untuk mengalihkan bebeberapa buku-buku agar tidak telalu menumpuk disalah satu ruang belajar serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan pojok baca itu pada waktu senggannya, sekaligus menterjemahkan apa yang telah dicangakan satu dasawarsa lalu terkait dengan gerakan literasi sekolah, sejauh ini pengunjung sebagian besar masih didominasi oleh para siswa itu pun hanya beberapa orang saja, karena membudayakan dan mentradisikan minat baca butuh waktu yang panjang, pada hal Allah Subhana Wataalah telah memberikan isyarat yang begitu jelas melalui Surah yang pertama turun di Gua Hira 15 abad silam melalui junjungan yang mulia Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, Iqra " bacalah " secara tidak langsung Dia Yang Maha Kuasa mengajak dan memerintahkan kepada kita untuk membaca, justru ayat tersebut turun yang ketika itu Rasulullah adalah seorang yang ummi ( belum bisa membaca).

Akhirnya sebuah harapan pada inovasi yang sederhana ini yakni Pojok Teras Pustaka (Poterpus) dapat membangkitkan semangat dan budaya literasi kepada para steakholder sekolah termasuk untuk seluruh lapisan masyarakat pesisir agar dapat memanfaatkan wadah/tempat ini untuk dapat mengembangkan pengetahuannya secara bertahap. Mohammad Hatta sang prolamator pernah mengatakan bahwa, " Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bisa kemana-mana."

*(Penulis, Muhammad Nurdin, Kepala UPT SDN 26 Jollo, Bungoro, Pangkajene dan Kepulauan )