Ayat Pertama Surat Al-Muluk: Hakikat Kekuasaan Ilahi

Ayat Pertama Surat Al-Muluk: Hakikat Kekuasaan Ilahi
Tafsir Jalalain, salah satu tafsir muktabar

Surat Al-Muluk yang berarti "Kerajaan atau "Kekuasaan" dibuka dengan sebuah pernyataan agung yang langsung menyingkap inti dari seluruh surat ini. Ayat pertama yang berbunyi:

تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير

"Maha Suci Allah pada-Nyalah segala kerajaan. Dan Dia Maha Kuasa atas tiap sesuatu" (Q.S. Al-Muluk ayat 1).

Ayat pembuka ini bukan hanya ayat pembuka biasa, melainkan sebuah proklamasi universal yang menegaskan keesaan dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Mari kita bedah makna dari setiap frasa dalam ayat ini.

تبارك = Maha Suci 

Kata "TABARAK" berasal dari akar kata "TABARUK" yang berarti keberkahan, kebaikan yang melimpah, dan pertumbuhan. Ketika disematkan kepada Allah, "TABARAK" mengandung makna:

• Maha Suci: Allah jauh dari segala kekurangan, aib, atau sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Kesucian-Nya adalah absolut.

• Maha Agung dan Mulia: Kekuasaan-Nya tidak tertandingi, dan kemuliaan-Nya tidak ada batasnya.

• Maha Pemberi Kebaikan dan Keberkahan:  Segala kebaikan dan keberkahan berasal dari-Nya. Dialah sumber segala kebaikan yang tak terbatas.

Penggunaan kata "TABARAK" diawal surat ini segera mengarahkan perhatian pada keagungan dan kesempurnaan Dzat yang akan disebutkan selanjutnya.

الذي بيده الملك = pada-Nyalah segala kerajaan

Frasa ini adalah inti dari ayat ini dan bahkan surat ini. "AL-MULK" berarti kerajaan, kepemilikan, dan otoritas penuh. Ketika disebutkan "BIADIHI ALMULKU" (pada-Nyalah kerajaan), ini menunjukkan:

• Kepemilikan Mutlak: Allah adalah pemilik tunggal di seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Tidak ada suatu pun yang berada di luar kekuasaan Allah SWT dan kepemilikan-Nya.

• Kontrol Penuh: Segala sesuatu di alam semesta, mulai dari partikel terkecil hingga galaksi terbesar, berada di bawah kontrol dan pengaturan Allah. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya.

• Otoritas tak Terbatas: Kekuasaan-Nya tidak dibatasi oleh ruang, waktu, atau entitas apa pun. Dia berhak mengatur, menghidupkan, mematikan, memberi dan menahan sesuai kehendak-Nya.

Ayat ini menepis segala bentuk kesyirikan atau klaim kekuasaan dari selain Allah SWT. Kerajaan dunia dan akhirat mutlak pada-Nya. Para raja dan penguasa di bumi hanyalah boneka dalam genggaman-Nya, yang kekuasaan mereka bersifat sementara dan sangat terbatas.

وهو على كل شيء قدير = Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

Frasa ini menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas pada jenis atau ukuran tertentu. Dari itu dipahami bahwa Allah SWT memiliki kemampuan penuh untuk melakukan apa saja yang Dia kehendaki tanpa ada hambatan, batasan, atau kelemahan.

• Dia mampu menciptakan dari ketiadaan.

• Dia mampu mengubah keadaan dari satu kondisi ke kondisi lain.

• Dia mampu membangkitkan yang mati, memberi rejeki, ataupun menghancurkan.

Penegasan kemahakuasaan ini memberikan keyakinan dan ketenangan bagi orang beriman bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sekaligus menjadi peringatan bagi orang yang ingkar, bahwa kekuasaan-Nya meliputi mereka dan perbuatan mereka.

Ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan keagungan Pencipta, yang kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu, dari yang tersembunyi hingga yang tampak. Dengan memahami ayat ini, seorang muslim diharapkan makin mengagungkan Allah, berserah diri, dan menyadari bahwa segala upaya dan kehidupannya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ini adalah landasan spritual yang sangat penting untuk memahami pesan-pesan selanjutnya dalam surat Al-Muluk, yang banyak berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, kehidupan akhirat, dan pertanggung jawaban manusia.

Semoga dengan pengenalan makna ayat pertama surat Al-Muluk ini dapat menumbuhkan dan menguatkan keyakinan akan keagungan dan kekuasaan Allah SWT, menambah motivasi untuk bersyukur dan beribadah, serta menambah semangat kita untuk beramal shaleh.

Ust. Sayuti Is, S.Sos