DI BALIK TOPENG BADUT

DI BALIK TOPENG BADUT
DI BALIK TOPENG BADUT

Manusia badut, sebuah sebutan untuknya. Di perempatan jalan, di alun-alun kota atau berjalan dari rumah ke rumah sambil memakai kostum badutnya. Mencari rezeki dari uang receh yang diterima dari orang-orang yang iba padanya. Dengan kostum badut satu-satunya yang dibelinya dengan cara mencicil dari hasil kerjanya. Riasan wajah tebal dan hidung palsunya melengkapi tampilannya. Perut besarnya menambah bebannya saat berdiri dan membuatnya kesulitan duduk.

Beberapa anak kecil tampak riang saat ada manusia badut. Sambil mengelus perut buncitnya dan menghibur mereka, berharap recehan dari mereka. Sekedar tertawa riang saat diminta untuk menemani sang anak foto bersama. Ada kebahagiaan di wajahnya saat ada uang lebih yang diberikan padanya.

Dengan keyakinan dan harapan, dia menempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerjanya dengan kostum kebesarannya. Dengan sedikit atraksi bergoyang goyang, melambaikan tangan, melangkahkan kaki ke kiri dan ke kanan sambil mengayunkan kaki ke depan. Sekedar untuk memecah konsentrasi pengemudi dan pejalan untuk memberikan sedikit receh padanya.

Panas, tentu saja setiap hari yang dia rasakan. Peluhnya selalu membasahi tubuhnya demi mencari uang untuk bisa mencukupi kebutuhannya. Saat hujan tiba, dia akan berteduh agar riasan wajah dan baju yang sudah dipakainya tak basah, atau air akan menghapus riasan wajahnya jika dia nekat menerjang hujan. Meskipun harus menyisakan waktu tidak mengais rezeki sampai  hujan reda.

Pilihan profesi yang dia geluti bukanlah cita-citanya dulu. Bahkan tak ada pikiran di benaknya untuk melakukan pekerjaan ini. Hanya keadaanlah yang menuntunnya sampai pada pilihannya sekarang. Menyisakan malu yang masih lekat di hati. Ingin rasanya berganti pekerjaan lain yang lebih baik lagi, namun saat ini inilah pilihan terbaik yang bisa dijalankan saat ini. Meskipun, cukup untuk mencukupi kebutuhan hari ini, sekedar makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari hasil dari jerih payahnya saat ini.