KENAPA AKU BERBEDA?
Aku terlahir berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Dari perlakuan dan perhatian orang tuaku pun berbeda dengan ke tiga kakakku. Kadang hal itu membuatku tidak adil, kenapa orang tuaku yang kusayangi berbuat seperti itu padaku. Kakakku pun demikian adanya, sering aku dibuat menangis oleh kelakuan kakak-kakakku yang selalu tidak mengenakkan. Hanya kakak ketiga yang begitu perhatian dan baik terhadapku. Aku begitu sayang dan dekat padanya. Aku selalu mengadu padanya jika aku mengalami hal yang tidak mengenakkan.
Aku tinggal di desa kecil di lereng gunung Semeru, tepatnya aku tinggal di Pronojiwo Lumajang. Bersama dengan keluarga besarku, bapak, emak dan ke tiga kakak perempuanku, meskipun dua kakakku saat ini tidak lagi tinggal dengan kami. Bapakku bekerja sebagai buruh tani yang giat bekerja di sawah, begitu juga dengan emakku. Emak dan bapak setiap jam enam pagi selalu berangkat ke sawah dengan membawa pacul dan perlengkapan ke sawah lainnya. Topi dari bambu selalu menemani emak dan bapakku ke sawah. Kondisi ekonomi kami cukup, tidak berlebih dan tidak pula kekurangan. Setiap pagi sebelum berangkat ke sawah, emak sudah menyiapkan sarapan kami. Kakak pertamaku sudah bekerja di Bali dan hanya setahun sekali pulang. kakak ke dua sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari rumah kami. Sedangkan kakak ke tiga masih sekolah di SMK kelas 11 jurusan tata boga. Dan saat ini aku masih sekolah di SMP negeri kelas 8.
Hawa dingin pagi ini membuatku malas untuk berangkat sekolah, meskipun tetap saja kupaksakan diriku untuk mempersiapkan berangkat sekolah. Emakku sudah memanggilku beberapa kali untuk menyuruhku makan. “Ren, cepet makan, nanti kamu terlambat ke sekolah.”
“ Iya mak, sebentar lagi aku makan.”
“ Ren, cepat keluar, makan dulu, kakakmu sudah menunggu ini.”
Setelah aku keluar dari kamar, emakku yang duduk di meja makan langsung berdiri, mengambil sapu dan bersiap untuk menghantamkan sapunya kepadaku. Selalu saja seperti ini, aku sudah siap dengan sabetan sapu oleh emakku.
“ Ren, kenapa kamu memakai rok itu?” tanya emakku.
“Ya Gusti, kamu ini kenapa, sambil menjerit jerit emakku memburuku untuk bersiap memukulku.”
“Kamu ini laki-laki Rendi.”
