Di Balik Jendela Hati yang Berdebu
Di balik jendela hati yang berdebu,
Ada cerita lama yang perlahan membeku,
Kenangan terjaring dalam sarang laba-laba,
Berdiam diri, terjebak dalam waktu yang meraba.
Dulu, cahaya mentari masuk tanpa ragu,
Menghangatkan sudut-sudut hati yang syahdu,
Namun, kini hanya bayangan yang tersisa,
Ditinggalkan oleh waktu, terlipat oleh usia.
Debu menari di sinar yang jarang,
Seperti kisah yang terlupakan dan terhalang,
Setiap partikel membawa jejak memori,
Membisikkan suara lembut dari sejarah yang berseri.
Pernahkah kau lihat jendela hati yang berdebu?
Menjadi saksi bisu dari cinta yang pernah terpaku,
Seakan bertanya, apakah masih ada asa,
Atau hanya tinggal kenangan yang tak bisa dibaca?
Di balik kaca itu, ada harapan yang redup,
Namun tetap berjuang, tak ingin menyerah walau pupus,
Meraba-raba cahaya, merindukan sinar terang,
Menggapai mimpi yang dulu pernah menggema lantang.
Setiap debu adalah penanda dari masa lalu,
Mengajarkan kita untuk tidak terlalu cemburu,
Pada waktu yang terus berjalan tanpa jeda,
Membawa kita pada kisah baru, pada cinta yang berbeda.
Jendela itu mungkin berdebu, namun tetap terbuka,
Menunggu angin harapan yang datang menyapa,
Menyapu debu, mengembalikan cahaya yang hilang,
Menghidupkan kembali cinta yang dulu terbelenggu dalam bayang.
Di balik jendela hati yang berdebu,
Ada ruang untuk mimpi yang baru,
Untuk cinta yang segar, untuk cerita yang abadi,
Menggantungkan harapan pada sinar hari nanti.

