Pohon Tua dan Kenangan yang Luruh

Pohon Tua dan Kenangan yang Luruh
sumber gambar : pinterest

Di sudut sepi desa itu,
Berdiri tegak pohon tua nan kokoh,
Ranting-rantingnya menjulang,
Seperti tangan yang melambai pada masa lalu.

Daun-daunnya yang mulai layu,
Berbisik lembut saat angin menyentuh,
Menyampaikan cerita zaman dahulu,
Tentang cinta, tawa, dan luka yang merindu.

Pohon tua, saksi bisu,
Bersama musim yang terus berlalu,
Dari kuncup muda hingga daun gugur,
Setiap helainya membawa kenangan yang berpendar.

Di bawah bayang-bayangnya,
Anak-anak dulu bermain ceria,
Kini mereka dewasa dan pergi jauh,
Meninggalkan jejak kecil di akar kehidupan.

Pada batangnya yang retak dan lapuk,
Terukir kenangan dengan ukiran halus,
Nama-nama kekasih yang pernah diukir,
Menjadi tanda cinta yang pernah hadir.

Saat hujan turun dengan lembut,
Pohon tua meneteskan air mata,
Mengenang masa-masa gemilang,
Saat semua masih ada, dan tak ada yang berubah.

Burung-burung bersarang di rantingnya,
Mengisi sepi dengan nyanyian merdu,
Menghantarkan pesan dari jauh,
Bahwa hidup selalu berputar, seperti daun yang jatuh.

Ketika angin malam berdesir pelan,
Pohon tua berdendang dalam kesunyian,
Mengisahkan kisah yang takkan pudar,
Tentang hidup, cinta, dan kenangan yang larut dalam waktu.

Dan di akhir setiap musim yang berganti,
Pohon tua tetap berdiri sendiri,
Menjadi penjaga dari kenangan yang luruh,
Menyimpan cerita yang abadi, tak tergoyahkan oleh waktu.