Persiapan Ujian Tidak Cukup Hanya Dengan Belajar Kisi-Kisi Soal

Persiapan Ujian Tidak Cukup Hanya Dengan Belajar Kisi-Kisi Soal
Proses Belajar Secara Mendalam

Bulan juni adalah bulan ujian sekolah. Di bulan ini, siswa/siswi mesti mempersiapkan diri dengan baik agar bisa menjawab pertanyaan yang diujikan.

Kebetulan saya diberi kesempatan untuk bertugas sebagai pengawas ujian sekolah. Seperti halnya tugas pengawas lainnya, saya membacakan tata tertib selama ujian, membagikan soal dan memastikan kondisi ruangan tetap kondusif selama ujian berlangsung.

Selama menjadi pengawas, saya melihat peserta ujian dengan serius mengerjakan lembaran yang sudah diberikan. Saya berfikir bahwa mereka tadi malam pasti belajar dengan keras, untuk mempelajari kisi-kisi yang sudah didapatkannya.

Suasana tenang pada saat ujian memang jauh berbeda dengan jam pembelajaran seperti biasanya. Pada saat jam pelajaran terkadang masih menemui beberapa anak yang rame. Asyik ngobrol dengan teman sebelahnya. Jadi, pada saat ujian guru semakin mudah dalam mengondisikan murid-murid.

Dunia pendidikan di Indonesia khususnya para guru akan membagikan kisi-kisi sebelum hari H ujian. Agar siswa bisa dengan mudah belajar sesuai dengan materi apa yang akan keluar pada saat ujian. Kisi-kisi yang diberikanpun sangat mengerucut dengan soal ujian, alhasil siswa akan dengan mudah menjawab semua pertanyaan jika sudah belajar dari kisi-kisi.

Saya juga sempat mengoreksi lembar jawaban dari siswa. Beberapa anak saya temui mendaptkan nilai yang bagus, namun ada juga yang mendapatkan nilai kurang memuaskan. Saya berasumsi bahwa anak yang nilainya dibawah KKM memang tidak ada niatan untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Padahal kan yang diujukan sudah jelas ada di kisi-kisi. Artinya kalaupun dalam proses belajar selama satu semester siswa cenderung pasif. Tapi apabila pada saat mau ujian belajar dengan keras mempelajari kisi-kisi soal, bisa jadi akan tetap bisa menjawab soal-soal.

Fenomena anak malas belajar bisa disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya lingkungan yang tidak mendukung. Contohnya di rumah tidak ada yang mendampingi untuk belajar, karena orang tuanya sibuk bekerja. Sehingga jarang ada waktu yang diberikan untuk membersamai anak dalam belajar di rumah.

Padahal sukses atau tidaknya peserta didik dalam sekolah tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru saja, tapi juga harus ada keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak ketika berada di rumah. Terkadang anak yang kesehariannya biasa saja dalam sekolah, malah mendapatkan nilai bagus ketika ujian. Itu karena anak pada saat dirumah selalu diarahkan dan didampingi oleh orangtua untuk belajar. Yah minimal kalau orang tua tidak bisa mendampingi, si anak bisa diikutkan les supaya jam belajarnya nambah.

Persiapan ujian dengan memberikan kisi-kisi menunjukkan bahwa ketika ujian kemampuan yang paling dibutuhkan adalah menghafal. Jika daya ingatnya kuat, maka nilai ujiannya pasti akan tinggi. Padahal proses selama belajar tidak hanya ditentukan pada saat ujian akhir saja, melainkan penilainnya juga diambil pada tugas, kehadiran dan nilai harian.

Kalau sudah diberikan kisi-kisi tapi tidak dipelajari mending kedepan para guru tidak harus lagi memberikan kisi-kisi kepada siswa. Agar siswa bisa berfikir secara mandiri mempelajari materi yang sudah didapatkan mulai dari pertemuan awal sampai akhir.

Kebayangkan bukan apabila siswa tidak diberi kisi-kisi, pasti mereka rasa ingin tahunya akan jauh lebih tinggi, karena akan menerka-nerka materi yang akan keluar. Dengan begitu tanpa disuruh membacapun sudah pasti siswa akan membaca.

Walaupun kita tidak tau apakah materinya keluar atau tidak, setidaknya mereka sudah membuka pola pikirnya dan mau untuk mengulas kembali seluruh pelajaran yang sudah diterima.

Ujian yang hanya mengandalkan pada kisi-kisi soal juga membuat pembelajaran siswa menjadi sempit, dan juga malah membatasi kesempatan siswa dalam memperluas pengetahuan.

Kalau siswa terbuka untuk belajar maka semakin banyak juga pengetahuan yang didapatkan. Sedangkan apabila siswa hanya berfokus pada kisi-kisi soal ujian, maka siswa tersebut hanya mempersiapkan untuk bisa menjawab soal-soal. Padahal tantangan kedepan para siswa tidak hanya menghadapi latihan soal-soal. Namun lebih dari itu. Oleh karena itu dengan belajar secara menyeluruh siswa akan berproses, dikatakan berproses karena mempelajari bab 1 sampai akhir dan belajar secara runtun.

Editor: Deris