Kain Kafan Di Kepala Para Sultan Turki Usmani

Simbol Kematian

Kain Kafan Di Kepala Para Sultan Turki Usmani
Kain Kafan Di Kepala Para Sultan Turki Usmani

KAIN KAFAN DI KEPALA PARA SULTAN USMANI
OLEH : SITI YULIATI

Saat berkunjung ke Museum Militer (Turki: Harbiye Muzesi) di Istanbul yang luas bangunannya 54.000 m², ada pemandangan yang membuat saya tertegun. Dalam satu ruangan terpampang lukisan para Sultan Usmani (Ottoman) berderet dari Sultan pertama sampai ke tujuh, dimulai dari pendirinya yaitu Osman I (1299-1324), Orhan I (1324-1362), Murad I (1362-1389), Bayezid I (1389-1402), Mehmed I (1413-1421), Murad II (1421-1444,) Mehmed II atau Sultan Muhammad Alfatih (1444-1446), sedang lukisan sultan lainnya terpampang di ruangan lainnya. Saya berpikir kenapa mahkota mereka semua berwarna putih dan besar. 

Setelah mencari tahu barulah saya mengerti ternyata mahkota atau Sarik (penutup kepala) yang dikenakan oleh Sultan Turki Usmani bukanlah mahkota biasa, melainkan berasal dari “kain kafan” yang dililitkan di kepala, sebagai simbol dari kematian.

Pemakaian Sarik sebagai mahkota, bisa diartikan bahwa setiap Sultan yang memimpin Turki, harus berjiwa mujahid, serta berani memimpin perang di barisan terdepan. Kehadiran Sarik bisa juga diartikan sebagai pengingat kepada Sultan, bahwa kematian selalu mengintainya, dan kain kafan sudah disiapkan. 

Simbolisasi “kain kafan” yang terdapat pada Mahkota, tentu diharapkan menimbulkan kesadaran, bahwa kepemimpinan adalah amanah bukan untuk berbangga-banggaan melainkan kesempatan untuk banyak berbuat kemaslahatan untuk bangsa dan agama.

Dalam sejarah, salah seorang pemimpin Turki, Sultan Bayazid I wafat ketika bertempur melawan tentara Romawi. Dan saat jenazahnya dimakamkan, beliau dikafani dengan kain kafan yang biasa ia kenakan ketika hidup.

Bagaimana dengan para penguasa saat ini? Perlukah memakai kain kafan sebagai mahkota atau Turban, agar mereka senantiasa mengingat kematian dan di saat ada keinginan untuk berbuat zalim ada reminder di atas kepala mereka. Mereka bukan penguasa untuk kepentingan diri sendiri dan golongannya tetapi pemegang amanah umat dan mereka akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu kelak di akhirat. Wallahu A’lam.