"Kalau Pandai Menjala Ikan, Bilangkan Pukat dengan Benangnya": Seni Menyampaikan Ilmu

"Kalau Pandai Menjala Ikan, Bilangkan Pukat dengan Benangnya":  Seni Menyampaikan Ilmu
Gambar Pukat

Pepatah Melayu yang berbunyi "Kalau pandai menjala ikan, bilangkan pukat dengan benangnya" mengandung makna yang dalam tentang bagaimana seharusnya seseorang yang memiliki kepandaian untuk bertindak. Lebih dari sekedar memiliki kemampuan, pepatah ini menyoroti pentingnya menyampaikan dan mengorganisir pengetahuan tersebut dengan sistematis dan terstruktur, layaknya seorang nelayan yang mahir menyusun jala dengan rapi.

Metafora "menjala ikanmelambangkan penguasaan suatu ilmu atau ketrampilan. Seseorang yang pandai "menjala ikan" adalah individu yang kompeten dan ahli di bidangnya. Namun, kepandaian itu tidak akan optimal jika tidak diiringi dengan kemampuan mengorganisir dan menyampaikan ilmu yang secara metafora disimbolkan dengan "membilang pukat dengan benangnya."

"Membilang pukat dengan benangnya." menggambarkan tindakan menyusun jala ikan secara cermat, mengetahui setiap simpul, setiap bagian dan fungsinya. Ungkapan tersebut memiliki makna filosofis yang sangat tinggi. Di antara makna-makna filosofis tersebut adalah:

1. Menguasai dasar dan prinsip: Seorang ahli tidak hanya tahu apa yang dia lakukan, tetapi mengapa dan bagaimana prinsip-prinsip dasar bekerja. Mereka memahami masalah fundamental yang membentuk keseluruhan pada keahlian mereka, yang secara metafora atau majaz, disimbolkan dengan "Pukat dengan Benangnya"

2. Berpikir sistematis: "Membilangkan pukat dengan benangnya" bisa dimaknakan dengan berpikir secara sistematis, yang merupakan kemampuan untuk mengorganisir pengetahuan secara logis dan terstruktur memungkin seseorang untuk memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dipahami. Kiasannya adalah seperti mengetahui setiap jalinan benang dalam pukat.

3. Mendokumentasikan pengetahuan: Dalam konteks yang lebih luas "Membilangkan pukat" juga bisa berarti mendokumentasikan pengetahuan secara sistematis, sehingga dapat dipelajari dan direplikasi oleh orang lain. Ini seperti memiliki catatan lengkap tentang bagaimana jala itu dirakit.

4. Menunjukkan proses dan penalaran: Bukan hanya hasil akhir yang penting, tetapi juga proses bagaimana hasil itu dicapai. Orang pandai adalah mereka yang mampu menjelaskan alur pemikirannya dan langkah-langkah yang diambil, layaknya menunjukkan bagaimana setiap benang terhubung dalam pukat.

Makna pepatah ini relevan dalam berbagai aspek kehidupan:

• Dunia pendidikan: seorang pengajar, ia tidak hanya menguasai materi, tapi harus mampu menyajikannya secara struktur dan menarik bagi siswa. Ia laksana membilangkan pukat, menyajikan ilmu pengetahuan secara terstruktur agar mudah diserap oleh orang lain.

• Dunia kerja: Seorang pekerja harus mampu mengkomunikasikan ide-ide dan strateginya kepada tim atau klien dengan jelas dan sistematis. Mereka laksana membilangkan pukat, karena keahlian mereka adalah untuk mencapai tujuan bersama. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan pengetahuan, keseriusan dan kekompakan.

Sebagai penutup, perlu disadari bahwa apa yang penulis sampaikan di atas hanyalah sebuah teori dan interpretasi dari sebuah pepatah, yang menurut penulis pepatah tersebut sangat inspiratif. Penulis sendiri masih dalam proses belajar, menyadari betapa luasnya lautan ilmu pengetahuan dan betapa jauhnya diri ini dari kesempurnaan. Masih banyak hal yang perlu penulis pelajari. Semoga kita semua diberikan petunjuk dan kemudahan oleh Allah SWT dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya, sehingga setiap kepandaian yang kita miliki dapat menjadi manfaat bagi kita sendiri dan sesama.

Penulis Artikel:

Ust. Sayuti, Is, S.Sos.

Mahasiswa (S2) UIN Ar-Raniry Banda Aceh