Pembina Laskar Aswaja Aceh: Drama Bid'ah Buatan Malaysia Menyudutkan Ulama Pewaris Nabi

Pembina Laskar Aswaja Aceh: Drama Bid'ah Buatan Malaysia  Menyudutkan Ulama Pewaris Nabi
H. Umar Rafsanjani Lc, M.A, Pembina Laskar ASWAJA Aceh (Jumat/11/4/2025)

Edusiana Banda Aceh - (Jumat/12 April/2025) Pembina Laskar ASWAJA Aceh, H. Umar Rafsanjani Lc, MA, mengkritik drama Malaysia yang dianggap menyudutkan ulama yang merupakan pewaris Nabi. Beliau menilai  bahwa drama tersebut dipenuhi isu nikah paksa, nafsu birahi, kekerasan dan manipulasi agama, dengan menggambarkan karakter-karakter berjubah dan bersurban ala sufi sebagai pelaku penyimpangan.

"Ironisnya, simbol-simbol warisan Islam yang sakral seperti jubah, sorban, dan laqab "Walid" justru dijadikan bahan olok-olok, sehingga memberi kesan bahwa pengamal tasawuf atau ulama tarekat adalah pelaku bid'ah" tulis H. Umar Rafsanjani disalah satu akun media sosial.

Beliau juga menegaskan, semua umat Islam tentu membenci dan tidak kompromi dengan kemaksiatan, apalagi jika ada oknum-oknum yang memperalat agama demi nafsu dan keserakahan, namun menurutnya, kesalahan oknum jangan digeneralisasikan dan diarahkan kepada seluruh ulama dengan simbol dan atributnya.

Menurutnya, drama ini adalah pembunuhan karakter ulama tarekat, pelecehan simbol Islam, dan pakaian sunnah, karena dijadikan untuk menakut-nakuti umat.

Menurutnya, jika ingin membuat drama mengisahkan tentang pelaku bid'ah, seharusnya harus ada keseimbangan naratif, misalnya, jika ada tokoh Walid Faizal yang digambarkan jahat, maka harus ada Walid Faizul sebagai ulama sejati, alim, zuhud dan mengikuti syariat, dan kedua tokoh ini harus setara, menjadi rival yang seimbang bukan sekedar guru dan murid.

"Jangan sampai laqab Walid, yang selama ini mulia dan digunakan oleh banyak ulama dan tokoh masyarakat, malah rusak dan jadi bahan olokan. Sekarang ketika orang dengar kata walid, yang muncul dibenak adalah wajah Walid jahat dari drama itu" kata H. Umar Rafsanjani, yang merupakan alumnus Pesantren Darussalam Labuhan Haji tersebut.

Pembina Aswaja Aceh ini berharap agar kita lebih selektif dalam mengkonsumsi tontonan yang bernuansa agama dan tidak menjadikan tokoh fiksi dari dunia hiburan sebagai rujukan, tapi jadikanlah ulama sebagai rujukan, tempat bertanya ketika dihadapkan dengan persoalan-persoalan  agama.

Kontributor Edusiana :

Ust. Sayuti Is. S.Sos