Kajian Tafsir: Pendekatan Filosofis dalam Menafsirkan Ayat-ayat Mutasyabihat

Kajian Tafsir: Pendekatan Filosofis dalam Menafsirkan Ayat-ayat Mutasyabihat
Al-Qur'an Menyimpan Kedalaman Makna yang tak Terbatas (Gambar Ilustrasi)

Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat, menyimpan kedalaman makna yang tak terbatas. Di antara ayat-ayat yang yang sarat hikmah terdapat kelompok ayat yang dikenal sebagai mutasyabihat. Ayat-ayat ini memiliki karakteristik lafaz yang samar, ambigu atau multi-interpretasi, sehingga memunculkan berbagai pemahaman di kalangan umat Islam sepanjang sejarah. Menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat memerlukan kehati-hatian dan keluasan ilmu, salah satu pendekatan menarik yang dapat digunakan adalah pendekatan filosofis. 

Pendekatan filosofis dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat tidak serta-merta menolak metode tafsir lainnya, seperti tafsir bi al-ma'tsur berdasarkan riwayat atau tafsir bi al-ra'yi berdasarkan ijtihad. Sebaliknya, pendekatan ini hadir sebagai lensa tambahan yang membantu memahami lapisan makna yang lebih dalam melalui kerangka pemikiran filosofis yang rasional dan sistematis.

Ayat-ayat mutasyabihat seringkali berbicara tentang konsep-konsep metafisika, sifat-sifat Allah SWT yang transenden, atau realitas yang melampaui pengalaman indrawi manusia. Pemikiran filosofis, dengan perangkat analisis logis, antologis dan epistemologisnya, dapat membantu menjembatani antara keterbatasan pemahaman manusia dengan keluasan makna ilahi. Pendekatan penerapan filosofis dalam tafsir ayat-ayat mutasyabihat melibatkan beberapa langkah dan prinsip:

1. Identifikasi Konsep Filosofis Relevan:

Langkah awal adalah mengidentifikasi konsep-konsep yang relevan dengan tema dalam ayat mutasyabihat. Misalnya ketika menafsirkan ayat tentang 'tangan" dalam surat Al-Fath ayat 10,  konsep tentang kekuasaan, kehendak dan tindakan tanpa anggota tubuh material adalah lebih relevan, karena memiliki anggota tubuh material merupakan satu hal yang mustahil bagi Allah SWT. Begitu juga "bersemayam" yang terdapat dalam surat Yunus ayat 3, berkuasa tanpa terikat dengan tempat adalah lebih relevan. Karena bertempat atau memiliki jirim merupakan suatu hal mustahil bagiNya.

2. Analisis Logis dan Rasional:

Menggunakan akal sehat untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan interpretasi dan menguji konsistensi internal dari setiap pemahaman. Interpretasi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip rasional yang mendasar perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. 

3. Penggunaan Analogi dan Metafora yang Tepat:

Filosofi sering menggunakan analogi dan metafora untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak. Dalam tafsir, penggunaan analogi yang hati-hati dapat membantu mendekatkan pemahaman ayat-ayat mutasyabihat kepada akal manusia tanpa terjebak dalam literalitas.

4. Memperhatikan Konteks Historis dan Linguistik:

Meskipun fokus pada pemikiran filosofis, konteks historis tentang turunnya ayat dan makna linguistik kata-kata tetap menjadi pertimbangan penting untuk menghindari interpretasi yang anakronistik atau keluar dari makna bahasa Arab.

Supaya lebih jelasnya, penulis menyarankan untuk mencari penjelasan "Takwil dan tafwiz" dalam kitab-kitab ulama, semoga upaya kita dalam memahami ayat-ayat Al-Quran, termasuk ayat-ayat mutasyabihat melalui pendekatan filosofis yang bijaksana, senantiasa mendapatkan ridha dari Allah SWT. Semoga pemahaman yang mendalam ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam, tetapi juga meningkatkan keimanan, ketakwaan dan kecintaan kita kepada-Nya serta mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Kontributor Edusiana:

Ust Sayuti Is. S.Sos