Saat Semua Orang Punya Pendapat: Kisah Bijak Luqman Al-Hakim dan Keledainya
Kita hidup di dunia yang penuh dengan pendapat. Mulai dari cara berpakaian, pekerjaan yang kita pilih, hingga bagaimana kita mendidik anak, tak peduli apakah kita sebagai publik figur atau orang biasa, seolah semua orang punya komentar. Dan seringkali kita berusaha keras untuk memenuhi ekspektasi itu, sampai akhirnya kita kehilangan diri sendiri.
Kisah Luqman al-Hakim, seorang figur yang disebut dalam Al-Qur'an karena kebijaksanaannya, adalah cermin yang sempurna untuk realitas ini. Melalui perjalanannya bersama putranya dan seekor keledai, ia mengajarkan pelajaran abadi tentang pentingnya memiliki pendirian dan tidak terpengaruh oleh omongan orang lain.
Babak Pertama: Keledai Kosong, Pikiran Penuh
Luqman dan putranya memulai perjalanan mereka. Keduanya berjalan kaki, membiarkan keledai berjalan di samping. "Bodoh sekali mereka," komentar sekelompok orang yang mereka lewati. "Punya keledai kok tidak ditunggangi." Merasa tidak enak, Luqman menyuruh anaknya untuk naik keledai.
Babak Kedua: Berusaha Menyenangkan Semua Orang.
Kali ini, giliran sang anak yang duduk di punggung keledai, sementara Luqman berjalan. Mereka melewati sekelompok orang lain. "Lihatlah anak itu," cibir mereka. "Dia menunggangi keledai dengan nyaman, sementara ayahnya yang tua disuruh berjalan."
Luqman dan putranya kembali merasa tidak nyaman. Mereka memutuskan untuk berganti posisi. Kini Luqman yang naik keledai dan putranya berjalan. "Sungguh ayah yang kejam," kata orang-orang lain. "Dia membiarkan anaknya berjalan kaki sementara dia sendiri duduk santai."
Dalam kebingungan, mereka akhirnya naik keledai berdua. Namun lagi-lagi, komentar negatif datang. "Dua manusia ini tidak punya hati," kata mereka. "Mereka menyiksa keledai yang lemah."
Pelajaran Abadi dari Sebuah Perjalanan
Pada titik ini, Luqman memandang putranya dengan senyuman. Ia berkata, "Nak, kamu lihat sendiri. Tidak peduli apa yang kita lakukan, orang akan selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Jika kita berjalan kaki, kita dibilang bodoh. Jika satu dari kita naik, kita dibilang tidak berbakti. Jika kita naik berdua, kita dibilang kejam."
Luqman ingin mengajarkan bahwa pendapat orang lain adalah ladang tanpa batas yang tidak akan bisa pernah kita puaskan. Jika kita terus menerus mencoba menyenangkan setiap orang, kita hanya akan berakhir kelelahan, bingung, dan kehilangan arah.
Kebijaksanaan sejati adalah mengenali suara hati kita sendiri. Itu adalah keberanian untuk mengambil keputusan yang kita yakini benar. Itu adalah ketenangan untuk berjalan maju, dengan kepala tegak, tidak peduli apa yang orang lain bisikkan di belakang kita.
Jadi, biarkan orang lain berpendapat. Dengarkan, tapi jangan biarkan pendapat mereka menjadi satu-satunya kompas dalam tindakan kita. Karena pada akhirnya jalan hidup yang paling benar adalah jalan yang kita yakini, bukan jalan yang disetujui oleh semua orang.
Penulis:
TGK. Sayuti Is, is a candidate for the Basic Arabic Certification

