BERSAMAMU AKU TAK MAMPU

BERSAMAMU AKU TAK MAMPU

Bergegas aku lari menghampirinya, dengan sisa nafas yang tersisa aku menghampiri Bang Rumi. “Jangan pergi...aku akan membutuhkanmu di sini”. Sambil menangis tersedu-sedu dan berusaha untuk menahannya agar tak pergi. Sebuah pelukan hangat kudapatkan, tak ada suara hanya kenangan bersamanya yang masih tersisa. Pikiran mengulang masa-masa lalu saat kita bersama dan saat ini hanya tinggal kenangan. Hari ini akhirnya kami dipisahkan. “Jangan diam saja Bang, usahakan agar kau tidak dibawa pergi oleh mereka.”  Bang Rumi hanya bisa pasrah akan nasib buruknya kali ini. Ada tiga orang di depan rumah yang sedang mengawasi kita berdua dan siap untuk menjemput Bang Rumi.

“Gruaakkk,” suara keras dari pintu yang dipaksa terbuka. Aku melihat tiga orang itu mendobrak pintu rumah kami. Kaget...jantung berdetak kencang, bingung apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan Bang Rumi. Aku hanya bisa menatap dengan sedih. Bang Rumi sempat berontak dan ingin menyelamatkan diri, namun apa daya badan besar dan tenaga mereka yang kuat membuat kami justru kehabisan tenaga. “Tolong...tolong...tolong...,” aku berusaha untuk meminta bantuan meskipun usahaku hanya sia-sia, tak ada yang mendengarku. Aku melihat Bang Rumi ditarik oleh orang-orang tersebut dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihatnya pergi dengan kesedihan.

Di bawah cahaya rembulan yang terang, keheningan malam syahdu. Aku hanya bisa terdiam dalam bayanganmu, menusuk hingga relung jiwaku. Perlahan terbawa oleh waktu kenangan hangat denganmu. Dibawa oleh bintang di angkasa, kenangan yang hanya tinggal bayanganmu. Impianku bersama denganmu hanya menyisakan rindu. Rumput yang ada di depanku menjadi santapanku saat mengingatmu. Andai kau ada di sini, menikmati rumput hijau denganku. Aku tahu jagal itu telah merenggut nyawamu hingga kau tak bersamaku saat ini. Aku tahu nasibku sebagai domba juga akan menyusulmu, hanya masalah waktu.